Sabtu, 17 Desember 2011

Manusia dan Keadilan

1. Makna Keadilan

    Makna keadilan secara syar'i sesuai surah diatas yakni memutuskan segala sesuatu berdasarkan Allah SWT dan rasul-Nya yakni al-Qur'an dan as-sunnah. Sehingga adil bukan hanya membagi sesuatu sama banyaknya. Adil ketika mengharamkan khamr dan tidak adil mengizinkan menjualnya di Supermarket. Adil ketika menghukum penzina muhshan dengan rajam dan tidak adil menghukumnya di penjara. Adil ketika melarang berlakunya bunga riba dan tidak adil membolehkan bunga riba. Begitu seterusnya.

2.  Kejujuran dan Kebenaran

Kehidupan adalah rahasia kekuasaan Tuhan, terkadang bahagia dan terkadang menderita, ada tangisan air mata dan sebentar kemudian gema gelak tawa menutupinya, ada keindahan ada juga kesuraman, hendaknya semua itu kita sadari dengan segala kerendahan hati. Jika kejujuran kita membuat resah hati seseorang, jika keterusterangan kita mengganggu tidur malam seseorang, jika apa yang keluar dari suara hati ini menjadikan diri orang lain tersakiti. Maka mohonlah maaf pafanya, atas ketidakkuasaan hati untuk memendam perasaan. Kejujuran memang berat, dan terkadang kita dibuat tidak berdaya dan serba salah dengan kejujuran itu sendiri. Antara ya dan tidak, antara suka dan benci, antara menerima dan menolak, antara mengakui dan menutupi, sulit memang untuk bisa mengatakan “tidak” tanpa harus menyakiti kesucian hati.

3. Kecurigaan

    Makna kecurangan dalam jual beli itu sangat luas. Misalkan saya menjual mangga dalam suatu kotak/kardus. Tetapi  sudah punya niat buruk. Yaitu berusaha agar pembeli tidak melihat mangga sebelum transaksi. Soalnya kalau diperlihatkan maka dipastikan konsumen tidak akan membelinya. Berarti saya sudah punya niat jelek. Memang secara hukum sih nggak ada masalah. Karena transaksi sudah jalan. Kita boleh saja mengatakan bahwa jual-beli itu berlangsung secara wajar. Tetapi cobalah tanyalah hati anda : apakah kerjaan saya itu bermoral ?



4. Pembalasan

    Pembalasan adalah sebuah perilaku yang ditujukan untuk mengembalikan perbuatan sesorang. Ada pembalasan dalam hal kebaikan dan ada pembalasan yang bersifat buruk.
Pembalasan juga bisa disebut sebagai hukuman ataupun anugrah, pembalasan diartikan sebagai hukuman ketika seseorang mendapatkan kejadian buruk setelah berbuat kejahatan kepada orang lain dan sebaliknya, pembalasan diartikan sebagai anugrah ketika seseorang mendapatkan keuntungan setelah orang tersebut berbuat baik kepada orang lain.
Pembalasan bisa datang dari sesama manusia ataupun dari Allah swt. Banyak cara untuk membuat hamba-Nya jera ataupun bahagia, karena rejeki atau musibah datang dari arah yang tidak pernah kita duga.


 

Manusia dan Penderitaan

1. Makna dari Penderitaan

Gambar pohon dengan batang dan akarnya yang kuat di samping ini menunjukkan betapa tanaman ini telah mengalami berbagai "ujian" dari alam untuk bisa bertahan hidup. Pohon yang bisa tumbuh sekokoh ini pasti sudah mengalami deraan angin kencang, hujan badai, kekeringan, dan berbagai peristiwa alam lainnya.akan tetapi pohon tersebut tetap berdiri tegak tanpa menghiraukan penderitaan yang di alami. Didalam waktu yang lama batang pohon itu akan menjulang tinggi ke angkasa dan menjaid pohon yang bermanfaat, tidak seperti rumput yang hanya mendapatkan angin yang sedikit akan tetapi kelak akan di cabut orang karena tidak bermanfaat.

2. Siksaan
  
   Makna yang kita dapat dari sebuah siksaan adalah rasa jera, yang dimana di waktu yang telah lampau mungkin kita telah berbuat sesuatu hal yang melanggar norma yang pada akhirnya hari menerima sebuah siksaan, hal ini dapat menimbulkan efek jera dari pelaku yang akhirnya tidak akan diulangi lagi di lain waktu .

3. Rasa Sakit

   Tidak sedikit dari kita yang beranggapan bahwa rasa sakit adalah merupakan salah satu cara Tuhan menghukum umatnya, bisa jadi hal ini disebabkan karena pengalaman masa kanak-kanak saat dimarahi atau bahkan dipukul orang tua ketika dianggap melakukan kesalahan atau keyakinan bahwa semua hal yang tidak menyenangkan yang menimpa diri seseorang adalah hukuman atas perbuatannya. Tetapi rasa sakit bagi saya secara pribadi, tidak menandakan bahwa Tuhan tengah menghukum umatnya. Karena bagaimanapun, rasa sakit merupakan cara alam memperingatkan orang-orang baik maupun orang-orang jahat bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

4. Sumber dari Penderitaan

      Penderitaan bukanlah diri Anda, itu hanyalah sensasi yang diterima oleh Anda. Saat Anda bisa memisahkan antara diri Anda dengan penderitaan itu, saat itulah Anda sudah melepaskan kemelekatan keakuan (ego). Saat itulah berakhirnya penderitaan. Jadi sumber penderitaan itu berasal dari diri Anda sendiri yang menggap bahwa “ Anda menderita”..Saat Anda terus melekatkan diri anda dengan penderitaan itu, semakin Anda akan merasa bahwa Anda adalah orang yang paling menderita.

5. Upaya Untuk Menghindarkan Penderitaan

    Jika penderitaan dan atau kebahagiaan ditarik ke dalam kasanah di luar manusia pribadi, maka sesuatu dapat disebut penderitaan dan atau kebahagiaan tidak dapat dikatakan “relatif’ dengan tetap memberikan kesempatan kepada pribadi-pribadi untuk memaknainya. Apakah penderitaan selalu muncul ketika manusia tidak melakukan apa-apa, atau menunggu suatu perbuatan tertentu termasuk melakukan aktifitas pemikiran (banyak lho yang bengong sendirian, dan akhirnya mempunyai dunia sendiri). Apakah sesuatu perbuatan (termasuk tidak melakukan perbuatan) akan menghasilkan penderitaan dan bermuara kepada kebahagiaan, atau sesuatu itu menghasilkan kebahagiaan dan bermuara pada penderitaan ? Atau hasil sesuatu itu pasti penderitaan atau kebahagiaan yang umurnya terbatas, sehingga harus dicari kebahagiaan-kebahagiaan baru (penderitaan diasumsikan tidak dicari meskipun ada yang melakukannya untuk tujuan tertentu. Secara umum penulis mengasumsikan tidak dicari) 

sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2010/05/26/memaknai-rasa-sakit/

Selasa, 08 November 2011

CERPEN

 CINTA YANG HAKKI


"Aira?" Seorang gadis menegur dari belakang. Umairah berpaling melihat gerangan suara yang menegurnya.

"Ya, saya." Umairah mengerut dahi. Cuba mengecam wajah gadis cantik di hadapannya. Umairah memerah otaknya. Mengimbas pantas wajah gadis di hadapannya.

"Aira? Girlfriend Adib, Aira kan?" Gadis itu bertanya lagi. Juga ingin memastikan gadis di hadapannya itu adalah seseorang yang dikenalinya.

"Ini Esya ke?" Soalan berjawab soalan di antara mereka.

"Oh My God! It is you!" Esya hampir menjerit. Memang dia tidak salah orang, walaupun penampilan Umairah kali jauh beza dengan penampilan kali terakhir dia menemui Umairah. Dari raub wajah yang dia kenali dan pernah dia gemari, dia tidak teragak-agak untuk menegur gadis yang sedang beratur menunggu giliran untuk menggunakan mesin ATM.

" You apa khabar?" Esha kembali berteka soal.

"Alhamdulillah… Awak?" Umairah bertanya kembali. Sebenarnya dia tidak selesa dan kekok bila Esya tiba-tiba muncul di situ. Esya. Rakan Adib yang dikenalinya tidak lama dulu, semasa dia dan Adib masih…

"Great, I’m great! Eh, Adib apa khabar ye?" Esya mematikan lamunan Umairah. Umairah menjawab dengan senyuman dan menggelengkan kepalanya.

"You mean, you guys are not together anymore? How come?"

Umairah hanya tersenyum manis.

"Itu yang terbaik buat kami" ada kesal kedengaran di hujung kata-kata Umairah.

Esya menarik lamunan panjang Umairah ke lantai sebelum Umairah lebih jauh melayang.

"wah… makin cantik sekarang. Bertambah ayu bila bertudung."

Umairah tersenyum tersipu malu. Esya mengimbas masa lalu, penampilan Aira yang seksi dan moden sering menjadi tarikan, menjadi kegilaan ramai rakan-rakan lain. Kini penampilan Aira yang dikenalinya dulu jauh berbeza.

Umairah memandu laju menuju rumahnya. Perasaannya terganggu sejak menemui Esya tadi. Sudah lama Adib mati dalam fikirannya. Kehadiran Esya menghidupkan kembali ingatannya pada Adib dan apabila memikirkan Adib, Umairah menjadi tidak tentu arah. Rasa rindu pula kini datang bertamu. Dia tidak mahu rasa begitu. Rasa itu tidak patut wujud. Adib adalah satu kesalahan yang tak harus berlaku dalam hidupnya.

Malam itu Umairah resah. Sejah petang tadi apabila nama Adib terpancul dari mulut Esya, satu persoalan bermain dalam fikirannya. Apa khabarkah Adib?

"Kalau satu hari you tiba-tiba rindukan I, dan rasa nak cari I, telefon lah. I tak kan tukar nombor telefon."

Terngiang-ngiang suara Adib di kotak lamunannya.Umairah memegang telefon bimbitnya. Dia tahu dia masih ingat nombor telefon Adib. Hatinya mahu namun akalnya melarang. Bertahun-tahun Umairah bangkit dari rasa kecewa dan patah hati . menangis dan termenung dalam masa dia ingin melupakan Adib hingga dia berjaya menyingkir Adib dari hatinya. Namun hari ini rindu itu datang menyerang. Haruskah dia melawan? Atau mengalah?

"Astaghafirullah al-a’zim…" Umaira lekas-lekas berikhtifar.

Tiba-tiba telefon bimbitnya berbunyi. Tertera nama ‘Abang’. Tanpa ragu-ragu Umairah menjawab panggilan tersebut.

Minggu, 06 November 2011

Bayang Ini


Masih jelas bayang itu

Setitik bayang dilembar putihku

Walau dulu hitam telah menutup

Tapi bayang itu masih dapat ku lihat

Apakah masih seperti dulu

Kini ku menyadarinya

Itu sangat berarti

Siluet tentang rasa ku padamu

Yang mendamaikan jiwaku

Yang tak kusadari dulu

Kini ku masih ingin kau melihatnya

Walau ku tahu

Kau telah membuka lembar baru

Akankah kau sadari

Tlah ku tulis namamu disini

Diantara harapan dan asaku

Akankah kau sadari

Aku akan tetap berada didekatmu

Disisi lain dirimu..

Walau kau tak menyadarinya..aku disini

Aku akan didekatmu

Walau hanya menjadi bayangan

Kini ku berharap..

Kau lihat aku di ujung hatimu
Berharap semu tentang cintamu.. 

Wujud-Wujud Kebudayaan Dalam Masyarakat Indonesia

BUDAYA MASYARAKAT BALI

A. Kompleks ide dari budaya Bali :

Bali berasal dari kata “Bal” dalam bahasa Sansekerta berarti "Kekuatan", dan "Bali" berarti "Pengorbanan" yang berarti supaya kita tidak melupakan kekuatan kita. Supaya kita selalu siap untuk berkorban. Bali mempunyai 2 pahlawan nasional yang sangat berperan dalam mempertahankan daerahnya yaitu I Gusti Ngurah Rai dan I Gusti Ketut Jelantik.

B. Sistem Budaya Masyarakat Bali 

1. Bahasa
Bali sebagian besar menggunakan bahasa Bali dan bahasa Indonesia, sebagian besar masyarakat Bali adalah bilingual atau bahkan trilingual. Bahasa Inggris adalah bahasa ketiga dan bahasa asing utama bagi masyarakat Bali yang dipengaruhi oleh kebutuhan industri pariwisata. Bahasa Bali di bagi menjadi 2 yaitu, bahasa Aga yaitu bahasa Bali yang pengucapannya lebih kasar, dan bahasa Bali Mojopahit.yaitu bahasa yang pengucapannya lebih halus.

2. Pengetahuan
Banjar atau bisa disebut sebagai desa adalah suatu bentuk kesatuan-kesatuan social yang didasarkan atas kesatuan wilayah. Kesatuan social tersebut diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara keagamaan. Banjar dikepalahi oleh klian banjar yang bertugas sebagai menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan sosial dan keagamaan,tetapi sering kali juga harus memecahkan soal-soal yang mencakup hukum adat tanah, dan hal-hal yang sifatnya administrasi pemerintahan.

3. Teknologi
Masyarakat Bali telah mengenal dan berkembang system pengairan yaitu system subak yang mengatur pengairan dan penanaman di sawah-sawah. Dan mereka juga sudah mengenal arsitektur yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan yang menyerupai bangunan Feng Shui. Arsitektur merupakan ungkapan perlambang komunikatif dan edukatif. Bali juga memiliki senjata tradisional yaitu salah satunya keris. Selain untuk membela diri, menurut kepercayaan bila keris pusaka direndam dalam air putih dapat menyembuhkan orang yang terkena gigitan binatang berbisa.

C. Sistem Sosial Masyarakat Bali 

a). Perkawinan
Penarikan garis keturunan dalam masyarakat Bali adalah mengarah pada patrilineal. System kasta sangat mempengaruhi proses berlangsungnya suatu perkawinan, karena seorang wanita yang kastanya lebih tinggi kawin dengan pria yang kastanya lebih rendah tidak dibenarkan karena terjadi suatu penyimpangan, yaitu akan membuat malu keluarga dan menjatuhkan gengsi seluruh kasta dari anak wanita.
Di beberapa daerah Bali ( tidak semua daerah ), berlaku pula adat penyerahan mas kawin ( petuku luh), tetapi sekarang ini terutama diantara keluarga orang-orang terpelajar, sudah menghilang.
b). Kekerabatan
Adat menetap diBali sesudah menikah mempengaruhi pergaulan kekerabatan dalam suatu masyarakat. Ada macam 2 adat menetap yang sering berlaku diBali yaitu adat virilokal adalah adat yang membenarkan pengantin baru menetap disekitar pusat kediaman kaum kerabat suami,dan adat neolokal adalah adat yang menentukan pengantin baru tinggal sendiri ditempat kediaman yang baru. Di Bali ada 3 kelompok klen utama (triwangsa) yaitu: Brahmana sebagai pemimpin upacara, Ksatria yaitu : kelompok-klompok khusus seperti arya Kepakisan dan Jaba yaitu sebagai pemimpin keagamaan.
c). Kemasyarakatan
Desa, suatu kesatuan hidup komunitas masyarakat bali mencakup pada 2 pengertian yaitu : desa adat dan desa dinas (administratif). Keduanya merupakan suatu kesatuan wilayah dalam hubungannya dengan keagamaan atau pun adat istiadat, sedangkan desa dinas adalah kesatuan admistratif. Kegiatan desa adat terpusat pada bidang upacara adat dan keagamaan, sedangkan desa dinas terpusat pada bidang administrasi, pemerintahan dan pembangunan.

D. Hasil Fisik dari Budaya Bali 

                                                                     1.  Pure Besakih 

    

                                                              2. Pure Mesakih 


 











Macam-macam Cinta Menurut ajaran Agama

Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

Sudut pandang Islam memandang Cinta :
Cinta memang satu perkara yang tidak pernah dapat dipisahkan dari kehidupan setiap manusia. Karena rasa cinta telah dengan sendirinya tumbuh dan terus berkembang di dalam nurani setiap insan. Namun, banyaknya para pengkhianat dan pendusta cinta yang melahirkan berbagai cerita duka, hina dan nista, telah menimbulkan tanda tanya tentang cinta itu sendiri. “Bagaimanakah sesungguhnya cinta dalam pandangan Islam? Apakah Islam membolehkan cinta?”
Islam dengan wataknya yang melekat dengan fitrah, jalan ruhani, dan aturan sakral memberikan pengakuan yang tegas terhadap eksistensi cinta yang esensinya berakar dalam diri manusia. Bahkan, Islam memberikannya warna indah, dan secara rinci membaginya ke dalam tiga tingkatan, yaitu cinta kelas tinggi, cinta kelas mennegah, dan cinta kelas rendah. Pembagian cinta seperti ini dapat dilihat melalui jendela sejarah. Dapat dipantau pada setiap celah waktu, baik dulu maupun sekarang, sampai Allah swt mewariskan bumi ini dengan segala potensi dan kekayaannya.
Cinta dan tiga tingkatan seperti yang telah disebutkan diatas, sebenarnya bersumber dari firman Allah swt di dalam Al Quran yang artinya:
“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah swt dan Rasul-Nya, dan dari jihad di jalan Allah, maka tunggulah sampai Allah swt mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah swt tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah (9): 24)
Cinta kelas tinggi adalah cinta kepada Allah swt, cinta kepada Rasulullah saw, dan cinta terhadap jihad di jalan Allah swt jihad fi sabilillah). Cinta kelas menengah adalah cinta kepada ibu-bapak, anak-anak, saudara, suami-istri, dan sanak famili. Sedangkan cinta tingkat rendah adalah cinta yang lebih mengutamakan keluarga, sanak famili, dan harta benda daripada Allah swt, Rasulullah saw, dan jihad di jalan Allah swt. Demikian pula rasa cinta yang hanya berdasarkan pada nafsu belaka.
Singkatnya, Islam telah memberikan pengakuan secara tegas terhadap eksistensi cinta. Islam mengakui bahwa cinta adalah fitrah yang berakar dalam diri manusia. Cinta adalah kepastian, yang merupakan kebutuhan yang tidak dapat dielakkan. Sebab, dalam esensinya tersimpan hikmah yang tidak terhitung jumlahnya, hikmah yang tentu saja direncanakan dan diinginkan oleh Allah swt, sebagaimana firman Allah swt di dalam Al Quran yang artinya:
“… (tetaplah atas) fitrah Allah swt yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah swt.” (QS. Ar Ruum (30): 30)
Demikian dikatakan oleh ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan dalam bukunya yang berjudul “Islam dan Cinta”
Sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, mustahil Islam melupakan masalah cinta yang merupakan salah satu akar perdamaian antar sesama manusia ini. Islam yang mengemban misi sebagai rahmat atau kasih sayang bagi seluruh alam sangat mengakui peranan dan keberadaan cinta di hati setiap manusia.
Islam tidak memandang cinta sebagai satu hal yang kotor atau hina. Dan cinta itu sendiri memang tidak akan pernah bisa kotor, karena Allah swt telah menetapkannya sebagai salah satu fitrah bagi manusia. Hanya saja, dalam kehidupan ini banyak orang yang sudah salah kaprah, mereka telah berusaha menodai dan mengotori cinta dengan mengobral nafsu kotor atas nama cinta. Namun sekali lagi, cinta tidak pernah kotor dan tidak akan pernah dapat dikotori, karena Islam telah menempatkan ditempat yang suci, yaitu di dalam nurani.

sumber : Syahadat.com 

Belas Kasihan


Belas kasih adalah hati yang iba dan rasa saying atau cinta kepada sesuatu atau seseorang. Arti lain yakni mengucapkan syukur, maksudnya merupakan pemberian itu menyentuh rasa kebutuhan seseorang yang diberi. Dalam menumpahkan belas kasihan, benar-benar harus keluar dari hati yang ikhlas, tidak terkandung unsure pamrih. Maksudnya, yang berbelas kasihan dapat merasakan penderitaan orang yang dibelas kasihi. Karena kita sekarang berada pada kemanusiaan dan kesadaran hokum yang menjadi nilai universal, maka setiap permasalahan harus didekati secara professional.

sumber : pengertian Manusia karya Izham Az-zahiri